|
|
|
|
(Penelitian Pada SD Negeri 2 Kalijati di
Kecamatan Sidamulih)
MAKALAH
Oleh :
UNDANG SUHENDAR
NIP. 197109082006041015
PEMERINTAH KABUPATEN CIAMIS
DINAS PENDIDIKAN
UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN SIDAMULIH
SEKOLAH DASAR NEGERI 2 KALIJATI
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis
panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Makalah ini. Shalawat dan salam,
mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi Muhamad Saw, beserta keluarga, sahabat,
dan umatnya. Amin
Penulis mengakui bahwa dalam
proses penyusunan makalah ini jauh dari sempurna.
Bantuan tersebut baik baik langsung maupun tidak langsung, materi maupun non
materi. Atas dasar itulah maka penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Bapak Prof. Dr. Haryo S.
Mangkudirdjo selaku Dosen Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan yang telah memberikan izin kepada
penulis sehingga dalam proses penyusunan ini lancar.
2.
Rekan seangkatan dan mahasiswa
yang telah banyak membantu selama pembuatan makalah ini..
3.
Semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak biasa penulis
sebutkan satu persatu.
Semoga
Allah SWT. membalas semua kebaikan dan dorongan bapak/ibu dan saudara semua
yang telah membantu pembuatan makalah ini, amiin yaa Robbal
Alamiin.
Sidamulih, Januari 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
ABSTRAK........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................................... 6
BAB II PEMBAHASAN
A.
Hakikat Guru Sebagai Pembimbing Belajar Dan Pendidikan 7
B. Manajemen Waktu Belajar Siswa
................................................ 11
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 13
ABSTRAK
|
|
|
1
|
(Penelitian Pada SD Negeri 2 Kalijati di
Kecamatan Sidamulih)
Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dalam prestasi
olahraga siswa dilakukan dengan mengalokasikan waktu belajar siswa didorong
oleh rasa tanggung jawab mereka sebagai tenaga pendidik yang harus mencapai
tujuan pendidikan semaksimal mungkin
Proses belajar mengajar yang di tunjang oleh loyalitas
dan disiplin tinggi akan menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lancar dan
kondusif. Hal itu karena tidak lepas dari peranan yang besar dari guru-guru
dalam mengelola kegiatan ekstrakurikuler dan sarana olahraga.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran siswa, perlu adanya
Variasi metoda pembelajaran siswa, guna membangkitkan minat dan bakat belajar
siswa dalam kaitannya dengan pendidikan Nasional.
|
|
|
1
|
(Penelitian Pada SD
Negeri 2 Kalijati di Kecamatan Sidamulih)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Keberhasilan penyelenggaraan program pendidikan di suatu wilayah tertentu,
ditentukan oleh banyak faktor penunjangnya. Keberhasilan tersebut ditunjukkan
oleh proses dan hasil belajar siswa dalam mencapai target yang diharapkan.
Undang-undang No, 20 Tahun 2003. tentang Sistem Pendidikan Nasional
mengamanatkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkernbangnya potensi peserta
didik aaar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepa Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlaq mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan mencaji warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai fungsi dan tujuan pendidikan nasional seperti tersebut
diatas diperlukan kegiatan yang mendukung intrakurikuler yaitu ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam program
ekstrakurikuler didasari atas tujuan dari pada kurikulum sekolah. Melalui
kegiatan ekstrakurikuler yang beragam siswa dapat mengembangkan bakat, minat
dan kemampuannya.
Pengertian ekstrakurikuler menurut
kamus besar bahasa Indonesia (2002:291) yaitu:”suatu kegiatan yang berada di
luar program yang tertulis di
dalam kurikulum seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa”. Kegiatan
ekstrakurikuler sendiri dilaksanakan diluar jam pelajaran wajib. Kegiatan ini
memberi keleluasaan waktu dan memberikan kebebasan pada siswa, terutama dalam
menentukan jenis kegiatan yang sesuai dengan bakat serta minat mereka. Menurut
Rusli Lutan (1986:72) ekstrakurikuler adalah:
Program ekstrakurikuler merupakan bagian internal dari proses belajar yang
menekankan pada pemenuhan kebutuhan anak didik. Antara kegiatan intrakurikuler
dan ekstrakurikuler sesungguhnya tidak dapat dipisahkan, bahkan kegiatan
ekstrakurikuler perpanjangan pelengkap atau penguatkegiatan intrakurikuler
untuk menyalurkan bakat atau pendorong perkembangan potensi anak didik mencapai
tarap maksimum.
Sehubungan dengan penjelasan tersebut, dapat penulis kemukakan bahwa
kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang menekankan kepada kebutuhan
siswa agar menambah wawasan, sikap dan keterampilan siswa baik diluar jam
pelajaran wajib serta kegiatannya dilakukan di dalam dan di luar sekolah.
Untuk mendukung terlaksananya program ekstrakurikuler diperlukan adanya
berbagai petunjuk atau pedoman, baik menyangkut materi maupun kegiatannya,
dengan harapan program ekstrakurikuler dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan
yang telah diganskan.
Agar pelaksanaan program ekstrakurikuler mencapai hasil baik dalam
mendukung program kurikuler maupun dalam rangka pengembangan diri peserta
didik. maka perlu diusahakan adanya informasi yang jelas mengenai arti, tujuan
dan hasil yang diharapkan, peranan dan hambatan-hambatan yang dihadapi selama
ini.
Setiap kegiatan mempunyai tujuan
tertentu, hal tersebut adalah dipandang sebagai suatu hal yang penting dan
perlu, karena tujuan merupakan satu diantaranya hal pokok yang harus diketahui
dan disadari betul-betul oleh seorang pendidik atau pelaksanaan kegiatan
sebelum melaksqanakan kegiatan ekstra kurikuler.
Maka tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan ekstara kurikuler itu
adalah sebagai berikut :
a. Kegiatan harus dapat
meningkatkan pengayaan siswa yang beraspek kognitif, afektif dan
psikomotor.
b. Memberikan tempat serta
penyaluran bakat dan minat sehingga siswa akan terbiasa dengan
kesibukan-kesibukan yang semakna.
c. Adanya perencanaan dan
persiapan serta pembinaan yang telah diperhitungan masak-masak sehingga program
ekstra kurikuler mencapai tujuan.
Faktor penunjang lainnya dalam menentukan keberhasilan atau prestasi adalah
guru. Menunjang dan atau kurang menunjangnya faktor-faktor lain terhadap hal
itu, ini sangat tergantung kepadanya. Di tangan gurulah semua itu akan berarti
bagi proses penyelenggaraan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.
Tentu saja guru yang dimaksud tidak asal ada. Paling tidak guru tersebut
dipersyaratkan dalam tiga pokok hal berikut: (1) berkualifikasi pendidikan yang
memadai; (2) mempunyai motivasi yang tinggi; dan (3) berkreativitas kerja yang
tinggi. Untuk memperoleh sosok guru yang demikian itu bukan hal yang mudah. Itu
sebabnya, hingga kini penyelenggaraan program pendidikan dalam suatu wilayah
masih dinilai kurang berkesan.
Selain faktor guru, suksesnya
pembelajaran di sekolah didukung oleh adanya pendayagunaan semua sarana dan
prasarana pendidikan yang ada di sekolah secara efektif dan efisien. Sarana dan
prasarana yang ada di sekolah tersebut perlu didayagunakan dan dikelola untuk
kepentingan proses pembelajaran di sekolah. Pengelolaan itu dimaksudkan agar
dalam menggunakan sarana dan prasarana di sekolah bisa berjalan dengan efektif
dan efisien. Pengelolaan sarana dan prasarana merupakan kegiatan yang amat
penting di sekolah, karena keberadaannya akan sangat mendukung terhadap
suksesnya proses pembelajaran di sekolah.
Disebutkan dalam UU Sisdiknas bahwa
setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana
yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan
potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta
didik.
Sarana dan prasaraa olahraga adalah semua
benda baik yang adalah semua benda baik yang bergerak maupun tidak bergerak, bergerak
maupun tidak bergerak, yang diperlukan untukyang diperlukan untukmenunjang
penyelenggaraan menunjang penyelenggaraan olahraga baik secara langsung olahraga
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Garis besar tentang manajemen Sarana
Prasarana meliputi hal-hal dibawah ini, yaitu: penentuan kebutuhan, proses
pengadaan
pemakaian, pencatatan / pengurusan dan pertanggungjawaban.
pemakaian, pencatatan / pengurusan dan pertanggungjawaban.
Kegiatan Ekstrakurikuler yang dilakukan
di sekolah-sekolah memuat begitu banyak kegiatan, diantaranya adalah kegiatan
olahraga. Kegiatan olahraga
telah diakui manfaatnya dan mempunyai aspek positif dalam usaha pembinaan manusia
Indonesia seutuhnya. Untuk meningkatkan dan memelihara kesegaran jasmani, hanya
ada satu cara yaitu dengan berolahraga secara teratur. Usaha terpadu,
berencana, dan teratur perlu dilakukan dan ditingkatkan dalam suatu pola
pembangunan dan pembinaan olahraga di Indonesia sebagai salah satu media
pendidikan dalam rangka mempersiapkan pembentukan generasi penerus yang
dikehendaki.
Menurut Depdiknas (2001:8) pendidikan jasmani
adalah :
Merupakan
bagian integral pendidikan secara keseluruhan yang mampu mengembangkan
anak/individu secara utuh dalam arti mencakup aspek-aspek jasmaniah,
intelektual (kemampuan interpretif), emosional, dan moral spiritual yang dalam
proses pembelajarannya mengutamakan aktivitas jasmani dan pembiasaan pola hidup
sehat
Sesuai dengan paradigma baru mengenai pendidikan
jasmani yang lebih menekankan pada pengembangan individu secara menyeluruh,
dalam arti pengembangan keterampilan intelektual, keterampilan efektif,
termasuk pembangunan moral-spiritual, pengembangan keterampilan fisik dan
kesegaran jasmani melalui aktivitas jasmani yang terpilih, terprogram dan
terarah.
Atas dasar hal tersebut maka pendidikan jasmani
di sekolah tidak diarahkan untuk menguasai cabang permainan olahraga, namun
lebih mengutamakan proses perkembangan motorik siswa dari waktu ke waktu.
Program pendidikan jasmani lebih berorientasi kepada kebutuhan siswa, sebagai
subyek didik, dan bukan sebagai obyek didik.Untuk mencapai prestasi yang baik,
perlu adanya latihan dan tempat latihan yang baik dan menunjang terhadap
perkembangan tubuh.
Latihan dan tempat latihan yang baik serta
menunjang terhadap perkembangan tubuh sangat diperlukan untuk mencapai prestasi
yang baik dari setiap atlet. Hal ini sesuai dengan penjelasan Jonath dan
Krempel (1986:6) sebagai berikut :
Latihan adalah jumlah rangsangan yang dilaksanakan pada
jarak-jarak waktu tertentu dengan tujuan untuk mencapai perubahan atau
penyesuaian fungsional dan morfologis organismenya, maka itu latihan tidak
hanya menyajikan pengulangan secara mekanis saja, tetapi juga mengulang secara
sadar, menurut kemampuan dan terarahkan.
Selanjutnya Harsono (1988:6) berpendapat bahwa
“latihan adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang
dilakukan secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban
latihan atau beban kerjanya”.
Latihan merupakan faktor yang sangat penting
untuk mencapai suatu prestasi, karena dengan latihan organisme neomuscullar
akan memperoleh keseimbangan secara terus-menerus yang diperlukan oleh
pengaturan organisme. Dengan latihan yang sistematis dan terencana maka kondisi
fisik akan baik dan kuat serta dapat mencapai prestasi yang optimal.
Kondisi fisik atlet memegang peranan yang sangat
penting dalam setiap proses latihan dari atlet itu sendiri. Latihan kondisi
fisik haruslah direncanakan dengan baik, sistematis dan ditujukan untuk
meningkatkan kesegaran jasmani serta kemampuan fungsional sistem tubuh, hingga
dengan demikian memungkinkan atlet akan dapat mencapai prestasi yang lebih
baik.
Rendahnya prestasi Atletik (trilomba)pada anak sekolah ditandai dengan
motivasi mereka pada saat latihan masih kurang optimal, pengelolaan kegiatan
latihan masih rendah, sarana kegiatan latihan kurang menunjang,
kekurangpropesionalan pelatih atau guru pembimbing kegiatan, waktu dan program
pelaksanaan latihan yang kurang terjadwal secara sistematis serta perhatian
pengelola pendidikan terhadap pelaksanaan kegiatan latihan Aatletik (trilomba) masih
kurang. Fenomena di atas menjadi kendala terhadap pencapaian prestasi Atletik
(trilomba) pada siswa SD Negeri 2 Kalijati di wilayah Kecamatan Sidamulih Kabupaten
Ciamis.
Kiranya untuk membuktikan benar atau tidaknya kondisi tersebut, tidak ada
jalan lain kecuali perlu dilakukan penelitian. Karena motif ini pula yang telah
mendorong penelitian dengan topik berikut “Pengelolaan
Kegiatan Ekstrakurikuler Dan Sarana Olah Raga Dalam Meningkatkan Prestasi Atletik
(Penelitian Pada siswa SD Negeri 2
Kalijati di Kecamatan Sidamulih Kabupaten
Ciamis)” dilakukan. Dengan harapan akan diperoleh data empirik yang
cukup memperkuat adanya berbagai isu yang dipersoalkan.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dilakukan, pokok permasalahan
penelitian ini menjadi jelas, sebagaimana tertuang pada rumusan berikut: “Bagaimana
pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dan sarana
olah raga dalam meningkatkan prestasi Atletik (trilomba) pada siswa SD Negeri 2 Kalijati di Kecamatan Sidamulih?
|
|
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Guru Sebagai Pembimbing Belajar Dan Pendidikan
Sebagai mana telah diuraikan pada pendahuluan, bahwa
mendidik ialah meminpin anak ke arah kedewasaan, jadi yang kiata tuju dalam
pendidikan ialah kedewasaan si anak. Tidak mungkin Seorang pendidik membawa
anak kepada dewasanya bukan hanya dengan nasihat-nasihat, perintah-perintah,
anjuran-anjuran dan larangan-larangan saja. Melainkan yang utama ialah dengan
gambaran kedewasaan yang senan tiasa dapat dibayangkan oleh anak dalam diri
pendidiknya didalam pergaulan mereka (antara pendidik dan anak didik).
Seiring berjalannya waktu suatu pendidikan berubah mengikuti perkembangan jaman. Sehingga sampailah pada saat dewasa ini, guru bukan merupakan satu-satunya kontrol sosaial, melainkan dalam hal ini guru mempunyai posisi sebagai pasilitator setelah menjalankan fungsinya sebagai pelatih, pengajar dan pembimbing.
Seiring berjalannya waktu suatu pendidikan berubah mengikuti perkembangan jaman. Sehingga sampailah pada saat dewasa ini, guru bukan merupakan satu-satunya kontrol sosaial, melainkan dalam hal ini guru mempunyai posisi sebagai pasilitator setelah menjalankan fungsinya sebagai pelatih, pengajar dan pembimbing.
Manusai sejak lahir sudah di anugrahi fitrah, untuk
membina dan mendidik serta melatih anak agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa.Implementasipengelolaan kegiatan ekstrakurikuler
dan sarana olah raga dalam meningkatkan prestasi Atletik (trilomba) pada siswa SD
Negeri 2 Kalijati di Kecamatan Sidamulih Kabupaten Ciamis dijabarkan sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing anak didik
seutuhnya untuk membentuk pembangunan yang ber-Pancasila.
a. Guru menghendaki hak individu dan
kepribadian anak didiknya masing-masing.
b. Guru berusaha mensukseskan
pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi anak didiknya.
c. Guru harus menghayati dan
mengamalkan Pancasila.
|
7
|
e. Guru melatih dalam memecahkan
masalah-masalah dan membina daya kreasi anak didik agar kelak dapat menunjang
masyarakat yang sedang membangun.
f. Guru membantu sekolah di dalam usaha
menanamkan pengetahuan keterampilan kepada anak didik.
2. Guru memiliki kejujuran professional
dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a. Guru menghargai dan memperhatikan
perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing.
b. Guru Hendaknya luas di dalam
menerapkan kurukulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
c. Guru memberi pelajaran di dalam
menerapkan kurikulum tanpa membeda-bedakan jenis dan posisi orang tua muridnya.
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama
dalam memperoleh informasi tentang anak
didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
a. Komunikasi guru dan anak didik di
dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih saying.
b. Untuk berhasilnya pendidikan, maka
guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluargannya
masing-masing.
c. Komunikasi guru ini hanya diadakan
semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan
sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya
bagi kepentingan anak didik.
a. Guru menciptakan suasana kehidupan
sekolah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah.
b. Guru menciptakan hubungan baik
dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal
balik dengan anak didik.
c. Pertemuan dengan orang tua murid
harus diadakan secara teratur.
d. Penyesuaian program dengan situasi
kelas. Program pengajaran adalah pengembangan kurikulum pada taingkat kelas
yang dalam pelaksanaannya yang bersipat plesibel ini berarti perkembangan
kurikulum tingkat intitusi pengembangan kurikulum tingkat bidang studi (GBPP),
termasuk perkembangan kurikulum tingkat kelas (Program Pengajran), dalam
pelaksanaannya menghendaki penyesuaian, antara lain dengan situasi kelas.
Pentingnya penyesuaian program pengajaran ini dengan situasi kelas ini karena digunakannya asas lingkungan.
Pentingnya penyesuaian program pengajaran ini dengan situasi kelas ini karena digunakannya asas lingkungan.
e. Penyesuaian jenis interaksi belajar
mengajar. Hal yang penting untuk di perhatikan guru kelas perencanaan dan
pelaksanaan program pengajaran ialah interaksi belajar mengajar yang
berlangsung selama proses belajar mengajar. Yang perlu mendapat perhatian guru
selama dilaksanakannya program pengajaran dalam hal interaksi belajar mengajar
ini ialah penggunaan berbagai jenis interaksi belajar mengajar ke arah yang
optimal dengan demikian, interaksi belajar mengajar yang berlangsung tidak
hanya guru kepada siswa saja, tetapi juga interaksi timbal balik antara guru
dan siswa.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan
masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk
kepentingan pendidikan.
a. Guru memperluas pengetahuan
masyarakat mengenai profesi keguruan.
b. Guru turut menyebarkan
program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat sekitarnya,sehingga
sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan
pendidikan dan kebudayaan di tempat itu.
c. Guru harus berperan agar dirinya dan
sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaru bagi kehidupan dan kemajuan
daerahnya.
d. Guru turut bersama-sama masyarakat
sekitarnya di dalam beraktivitas.
e. Guru mengusahakan terciptanya kerja
sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi
kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah,orang tua murid dan masyarakat.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau
bersama-sama Mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a. Guru melanjutkan studinya dengan :
1. Membaca buku-buku
2. mengikuti lokakarya,seminar,gerakan
kopersi,dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.
3. mengikuti penataran
4. mengadakan kegiatan-kegiatan
penelitian.
b. Guru selalu bicara, bersikap, dan
bertindak sesuai dengan martabat profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara
hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam
hubungan keseluruhan.
a. Guru senantiasa bertukar
informasi,,pendapat,saling menasihati dan Bantu membantu satu sama lainnta,baik
dalam kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas prfesinya.
b. Guru tidak melakukan
tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan
menunjang martabat guru baik secara keseluruhan maupun pribadi.
8. Guru secara bersama-sama
memelihara,membina,dan meningkatkan organisasi guru professional sebagai sarana
pengabdiannya.
a. Guru menjadi anggota dan membantu
organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
b. Guru senantiasa berusaha
meningkatkan persatuan diantara sesama pengabdi pendidikan.
c. Guru senantiasa berusaha agar
menghindarkan diri dari sikap-skap,ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang
merugikan organisasi.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan
yang merupakan kebijaksanaan pemerinah dalam bidang pendidikan.
a. Guru senantiasa tunduk terhadap
kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
b. Guru melekukuan tugas profesinya
dengan diplin dan rasa pengabdian.
c. Guru berusaha membantu menyebarkan
kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kjepada orang tua
murid dan masyarakat sekitarnya
d. Guru berusaha menunjang terciptanya
kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerah sebaik-baiknya.
B. Manajemen Waktu Belajar Siswa
Waktu belajar merupakan masa dimana para siswa mendapatkan
pengajaran. Suatu tujuan pendidikan akan senantiasa dapat tercapai dengan baik
apabila di tunjang oleh alokasi waktu yang baik,akan tetapi efektivitas waktu
bukan satu-satunya factor penunjang keberhasilan pendidikan.lingkungan sebagai
bentuk pendidikan informal juga dapat mempengaruhi terwujudnya suatu tujuan
pendidikan.
Proses pendidikan senantiasa harus mengacu kepada
manajemen atau alokasi waktu yang baik.hal ini berarti waktu sebagai Batasan
(kontrol) proses berjalannya suatu pendidikan.
|
|
PENUTUP
Dari beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan
yaitu sebagai berikut :
Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dalam prestasi
olahraga siswa dilakukan dengan mengalokasikan waktu belajar siswa didorong
oleh rasa tanggung jawab mereka sebagai tenaga pendidik yang harus mencapai
tujuan pendidikan semaksimal mungkin
Proses belajar mengajar yang di tunjang oleh loyalitas
dan disiplin tinggi akan menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lancar dan
kondusif. Hal itu karena tidak lepas dari peranan yang besar dari guru-guru
dalam mengelola kegiatan ekstrakurikuler dan sarana olahraga.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran siswa, perlu adanya
Variasi metoda pembelajaran siswa, guna membangkitkan minat dan bakat belajar
siswa dalam kaitannya dengan pendidikan Nasional.
|
12
|
DAFTAR PUSTAKA
|
|
Harsono. 1984. Coaching
dan Aspek-aspek Psikologis dalam Coaching. Jakarta :
CV.
Tambak Kusumah
Rusli Lutan (2003). Pendidikan Kebugaran Jasmani. FPOK Universitas Pendidikan
Indonesia.
Saputra. 2001. Pendidikan
Keterampilan dalam Pembelajaran. Jakarta :
Direktorat
Jendral Olahraga. Depdiknas
Yudha M. Saputra (3003). Pembelajaran atletik di Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
|
13
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar